Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mengatasi rasa malu pada anak-anak. Pertama, sebaiknya orang tua tidak mengolok-olok atau membicarakan sifat pemalu anak didepannya, karena anak merasa tidak diterima sebagaimana adanya.
Kedua, ketahui kesukaan dan potensi anak. Lalu, doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak usia suka main mobil-mobilan, ketika ditoko ia ingin mobil merah, sementara yang tersedia warna biru. Maka, anak bisa didorong untuk mengatakan pada pelayan bahwa ia menginginkan warna merah.
Ketiga, sebaiknya orang tua secara rutin mengajak anak berkunjung kerumah teman, tetangga, kerabat, dan bermain disana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjug, sebiknya juga mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
Keempat, lakukan role-playing bersama anak. Misalnya, seperti contoh kedua, anak belum tentu berani berbicara pada pelayan toko, sekalipun didampingi orang tuanya. Maka, ketika berada dirumah, orang tua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada ditoko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lainnya.
Kelima, jadilah contoh buat anak. Orang tua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
Apapun usaha yang dilakukan, sebiaknya orang tua tetap mendampingi dan tidak langsung melepas anak seorang diri. Misalnya, ketika diminta berbicara pada pelayan toko, orang tua berada disamping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orang tua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan aktivitas seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang.
Kedua, ketahui kesukaan dan potensi anak. Lalu, doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak usia suka main mobil-mobilan, ketika ditoko ia ingin mobil merah, sementara yang tersedia warna biru. Maka, anak bisa didorong untuk mengatakan pada pelayan bahwa ia menginginkan warna merah.
Ketiga, sebaiknya orang tua secara rutin mengajak anak berkunjung kerumah teman, tetangga, kerabat, dan bermain disana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjug, sebiknya juga mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
Keempat, lakukan role-playing bersama anak. Misalnya, seperti contoh kedua, anak belum tentu berani berbicara pada pelayan toko, sekalipun didampingi orang tuanya. Maka, ketika berada dirumah, orang tua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada ditoko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lainnya.
Kelima, jadilah contoh buat anak. Orang tua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
Apapun usaha yang dilakukan, sebiaknya orang tua tetap mendampingi dan tidak langsung melepas anak seorang diri. Misalnya, ketika diminta berbicara pada pelayan toko, orang tua berada disamping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orang tua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan aktivitas seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang.
Related posts
Tips
- Array
- Pendeklarasian Parameter Pada Procedure
- Procedure
- Hardware Komputer : Perangkat Input (Bagian 2)
- Hardware Komputer : Perangkat Input (Bagian 1)
- Belajar Pascal : Program Pascal Sederhana
- Sturktur Perulangan while/do
- Logika Percabangan (part 4)
- Logika Percabangan (Part 2)
- Pertanyaan Anak yang Paling Ditakuti Orang tua
- Kiat Mengatasi Anak Pemalu
Terimakasih terlah berbagi saran. Kebetulan anakku jago kandang. Kalau di depan umum, pemalu.
BalasHapustips yang menarik.... bisa jadi patokan nih... hehe
BalasHapussip sip nih tipsnya. bs dipraktekkan utk anak2 kita nanti ya pak ted, hehehe... :D
BalasHapustips bagus nie.., bisa dipraktekin dah ntar kalo udah punya anak
BalasHapusbelum punya anak nih.
BalasHapustapi boleh juga tuh postingnya ...
Walaupun belum married but artikel nya bisa jadi referensi nantinya..thanks
BalasHapusbagus neh postingannnya...anakku dalam segala hal dia gak pemalu yahhh ,sampe ngobrolpun dia gak merasa malu even dalam bhs inggris...yang dia merasa malu kalo ngedot di depan temen2nya coz dia merasa udah besar...hehehe
BalasHapuskiat yang bermanfaat sekali...
BalasHapuskiat2 yang laen mau dunk..
Bagus... kadang-kadang orang tua jarang sekali memperhatikan hal yang kecil seperti itu... Maunya orang tua anaknya jadi pinter nurut gak nakal dsb dsb... Padahal guru pertama anak2 kan orang tua... So kewajiban orang tualah untuk ngajarkan itu semua ke anak2 mereka.... (sok wise)
BalasHapusNah loh... dihimbau bagi para blogger yang udah jadi parent... dibaca baik2 tips nya.. Bagus banget tuh...
BalasHapusbagus nih artikelnya..bermanfaat buat para orang tua yg punya anak pemalu... thanks yaa..
BalasHapusmmmm nice tips ... boleh juga tuh kalo ada anak pemalu ... tapi bener, tips2 itu biar anak makin percaya diri. begituu?
BalasHapusgw aslinya agak pemalu juga sih :p
Aku juga pernah mas punya keponakan pemalu banget. Sampai usia 4 tahun masih pemalu banget. Hanya bisa nempel ama ortu aja, orang lain kagak. Tapi dibiarin sekarang malah nakalnya minta ampun..
BalasHapusmike mampir lagi..lama ga maen ksini..;)
BalasHapustipsnya sangat membantu banget nich :)
BalasHapustipnya boleh jg nei...
BalasHapusterima kasih tipsnya.
BalasHapus